Sejarah Asal-Usul Kasepuhan Cisungsang, Cibeber Lebak Banten


Cisungsang adalah desa yang berada di kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, Indonesia. Cisungsang dikenal akan masyarakat adatnya yang masih teguh mempertahankan adat-istiadat pra-Islamnya. Tidak seperti suku Baduy, masyarakat adat Cisungsang relatif lebih terbuka dengan kemajuan teknologi.

Kampung Cisungsang terletak persis di tepi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Yang tentunya daerahnya Masih asri, masih segar baik udara dan polusinya.  

Tak jauh dari Cisungsang, terdapat perbatasan Banten dan Jawa Barat dengan sungai yang menjadi garis pemisah Kabupaten Lebak dan Sukabumi. 
Dari kota Rangkasbitung, jarak kampung adat ini sekitar 150 kilometer, sedangkan dari Jakarta sekitar 280 kilometer.

Rumah-rumah di kampung Cisungsang terlihat rapih dengan tata letak kampung yang dinamis. Seluruh rumah warga adat tampak menghitam dengan atap ijuk dari pohon aren. Rumah-rumah kecil berdiri di antara tebing yang tak terlalu tinggi, mengapit satu rumah besar dan dua balai pertemuan di bawahnya yang menjadi pusat Kampung Adat Cisungsang.

Sampai saat ini, Warga kampung percaya Cisungsang didirikan oleh anak Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Walangsungsang yang telah mengalami situasi 'Ilang Galuh Pajajaran'. Raja ini memberikan banyak keturunan bagi masyarakat Sunda yang tersebar hampir di seluruh daerah Jawa Barat.

Menurut cerita, Konon, kata Cisungsang juga dibentuk dari dua suku kata, 'ci' dan 'sungsang'. Secara harfiah kata ‘ci’ adalah bentuk singkat dari cai dalam bahasa Sunda yang berarti air. Sedangkan ‘sungsang’, dalam bahasa Sunda berarti terbalik atau berlawanan dari keadaan yang sudah lazim. Maka istilah Cisungsang dapat diartikan air yang mengalir kembali ke hulu (mengalir secara terbalik).

Warga Kampung Cisungsang percaya bahwa kampung mereka merupakan desa pertama yang dibuka oleh Walangsunsang. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘Guru Cucuk’. 

Seorang Sesepuh cisungsang yaitu Apih Jampana mengatakan bahwa, wilayahnya adalah lahan hutan yang dipilih para leluhur untuk dijadikan tempat tinggal. Itulah alasan mengapa Desa Adat Cisungsang disebut Desa Kasepuhan Banten Kidul atau Kesatuan Adat Banten kidul. Sedangkan kampung adat lain dalam keluarga Kasepuhan Banten Kidul seperti Ciptagelar, Cicarucub, Citorek, dan lainnya adalah perluasan dari Cisungsang.

“Yang menjadi pusat Kasepuhan Banten Kidul itu adalah Kasepuhan Cisungsang. Alasannya, tidak ada yang berani memulai, dari menanam padi, memanen hasil padi. Ciptagelar, Cicarucub, atau desa adat yang lain itu diatur oleh Kasepuhan Cisungsang dalam ritual pertaniannya. Ceritanya, ada buyut (Citorek), pantrang (Cicarucub), pamali (Ciptagelar), Kasepuhan Cisungsang lah yang mengaturnya ". kata Apih Adeng pada satu kesempatan yang diamini juga oleh Abah Usep (Ketua adat Kasepuhan Cisungsang). 

Pada sesi pidato yang mengawali musyawarah warga adat Cisungsang dengan pemerintah disela-sela acara Seren Taun, Abah Usep mengakatakan, antara Cisungsang dan Kasepuhan Adat Banten Kidul lainnya adalah satu rumpun.
Menurut Abah Usep, sejarah awal berdirinya Kasepuhan Adat Banten Kidul dimulai dengan musyarawah para sesepuh pada zaman dahulu. Dari musyawarah itu, tercipta lima turunan mandiri kasepuhan adat di seputar Banten selatan. Satu kasepuhan berada di daerah Bayah, sedangakan saudara serumpun tercipta di daerah lainnya. Saudara serumpun itu dibagi menjadi dua istilah yaitu ‘dulur awewe’ (saudara perempuan) dan ‘dulur lalaki’ (saudara lelaki).

“Dulur awewe” (saudara perempuan) kasepuhan Banten Kidul adalah, Cicarucub dan Citorek. Sedangkan dulur lalaki adalah Cisungsang dan Ciptagelar.
Dari kesemuanya yang paling besar adalah Cisungsang. Sedangkan Ciptagelar adalah satu-satunya yang berada di wilayah Jawa Barat. Tapi kedudukan semuanya sama,” kata Usep yang juga seorang keturunan keempat pemimpin Cisungsang itu.

Karena tinggal di pegunungan, tak heran jika leluhur keturunan Kerajaan Pajajaran di Cisungsang adalah masyarakat agraris. Mereka mengandalkan cocok tanam, terutama padi. 

Dari berbagai legenda masyarakat agraris di Nusantara, keberadaan Dewi Sri sangat disakralkan. Tak terkecuali, para leluhur Sunda yang dahulu mengamalkan keyakinan Sunda Wiwitan dan Hindu. Meski kini sebagian besar masyarakat Sunda beragama Islam, namun warga adat seperti di Kampung Cisungsang masih meyakini keberadaan Dewi Sri, yang dalam masyaraat Sunda disebut Nyi Pohaci, sebagai lambang kesuburan.

Itulah, kiranya sedikit informasi mengenai  Kasepuhan cisungsang Banten kidul. Jika digali lebih jauh tentang kesepuhan cisungsang mungkin bisa menghabiskan beberapa atau bahkan puluhan halaman untuk menuliskannya. 

Terimkasih, semoga bermanfaat untuk kita semua. 
Artikel dirangkum dari berbagai sumber


#Cisungsang
#kasepuhanbantenkidul
#inforangkasbitung 
#infolebakbanten 

0 Comments

Iklan Bawah Artikel