Kakak beradik Asal Maja Lebak Menjadi IMAM Besar di Timur Tengah




INDONESIA dikenal sebagai negara dengan masyarakat berpopulasi muslim terbesar di dunia. Tokoh muslim yang berasal dari Indonesia pun telah banyak dikenal luas di dunia. Bukan hanya ulama, hafiz quran asal Indonesia pun telah berkecimpung di berbagai kompetisi internasional bahkan tak sedikit yang menjadi juara, tak sedikit dari mereka yang dikenal pula sebagai imam masjid di berbagai belahan dunia.

Menjadi Imam Masjid di Timur Tengah adalah impian banyak santri di Indonesia. Namun perjuangan menuju kearah sana membutuhkan perjuangan dan pengorbanan serta kesungguhan. Tidak banyak warga Indonesia yang bisa tembus menjadi Imam di masjid-masjid Timur Tengah, namun demikian tinta sejarah seolah akan terus berulang. Banten pernah memiliki Syeikh Nawawi asal Tanara yang menjadi Imam di Makkah. Kini, Nawawi muda mulai bertebaran di Jazirah Arabia, walaupun bukan di Makkah, namun mereka kini banyak dijumpai di tanah Arab lainnya.
Sungguh sebuah anugerah yang tidak terbantaikan memiliki putera yang dapat membuat bangga orangtuanya bahkan mengharumkan nama negaranya. Adalah pasangan dari bapak Kyai Madyana bin Syarofan dan ibu Mamnu'ah yang tinggal di kampung binong salahsatu daerah yang terletak di kecamatan maja Kabupaten Lebak Provinsi Banten begitu bangga memiliki putera yang dapat mengharumkan nama orangtuanya.
Beliau memiliki putera-putera yang dipercaya mengemban tugas sebagai imam masjid di wilayah timur tengah, yakni Syekh Nurfarid Haqiqi yang berkiprah sebagai Imam masjid di Qatar sejak tahun 2007, dan adiknya Syekh Asep Ismatullah berkiprah sebagai Imam Masjid Al Akhyar Kota Sarjah, Uni Emirat Arab (UAE).
Syekh Nurfarid Haqiqi dengan nama panggilan Kiki ini lahir pada tanggal 26 Mei 1985 di Desa Binong Kecamatan Maja Kabupaten Lebak. Masa kecilnya dilalui di kampung halaman, layaknya usia sebaya yang sering ke sawah dan kebun untuk membantu orang tua. Sekolah dasarnya diselesaikan di SDN Binong 7 (saat ini SDN Binong 2) pada tahun 1997, namun setamat SD, selama setahun paska lulus beliau fokus belajar mengaji Qur’an dan kitab kuning pada ayahnya di rumah beserta pendalaman pelajaran syariat dan ilmu agama.
Barulah pada 1998 beliau melanjutkan sekolah ke MTs Mathlaul Anwar hingga lulus pada tahun 2001 dan lanjut ke SMA Islam Pembangunan yang masih dalam satu yayasan dengan MTs hingga lulus pada 2004. Semua diselesaikannya di kampung tercinta, Maja Lebak – Banten.
Keinginan untuk lanjut kuliah selalu ada bergelora dalam dada, namun dirinya sadar bahwa keadaan ekonomi orang tuanya tidak memungkinkan karena ia masih memiliki lima adiknya yang membutuhkan biaya pendidikan.
Tak mau putus dalam menuntut ilmu, Kiki muda saat itu bertekad tetap melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Tahfidz Salafiyah Darul Hufadz yang terletak di Desa Parung Lebak Kecamatan Cikulur pimpinan KH. Alawi selama setahun.
Dilema kembali muncul karena untuk memenuhi keseharian sebagai santri dirinya tidak bisa menunggu kiriman uang atau beras dari orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai petani tradisional di kampung.
Lain halnya dengan sang adik, dikutip dari Satu Banten, 9 Mei 2020 lalu, disebutkan bahwa lelaki yang disapa Ustaz Asep itu adalah pemuda kelahiran 31 Juli 1993 asal Kampung Panyandungan Kecamatan Maja Kabupaten Lebak Provinsi Banten.
Masa kecil beliau dilalui layaknya anak-anak di kampungnya seperti biasa. Sekolah dasar diselesaikan di SDN Binong 02, lanjut MTs dan MA Al Falah Citeras.
Cita-cita awal beliau memang menjadi penghafal Al Qur’an, hingga selepas lulus Aliyah beliau melanjutkan menjadi santri di Pondok Pesantren Al Falah Nagrek Bandung dibawah bimbingan Al Magfurlah KH Q Syahid Abdullah dan KH Ahmad Farizi Alhafidz sampai 2014.
Beliau kemudian mengambil jurusan Tarbiyah di kampus yayasan milik pesantren. Namun, impiannya untuk melanjutkan pendidikan harus terkubur karena terbentur masalah biaya.
Ustad Asep hanya bisa kuliah sampai semester 4. Ia memilih mengalah karena masih ada 3 adiknya yang lebih butuh biaya pendidikan.
Pulang dari Nagrek, Asep melanjutkan pendidikannya dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Madarijul Ulum Pelamunan, Serang Banten di Bawah Bimbingan KH Abah Umni Lujaini Thahir sampai tahun 2017
Pertengahan 2017, Asep mendapat kabar dari paman beliau bahwa ada lowongan penerimaan untuk Imam Masjid yang sedang dilaksanakan oleh Kementrian Agama (Awqaf) Uni Emirate Arab.
Saat itu beliau agak bimbang awalnya karena tidak memiliki ongkos untuk ke Jakarta. Namun paman beliau memberikan uang untuk ongkos dan akhirnya berangkatlah beliau ke salah satu hotel berbintang di Jakarta sebagai lokasi tes saat itu.
Cita-cita awal ingin menjadi guru dan mengambil jurusan tarbiyah saat kuliah, namun jalan Allah membawanya menjadi Imam di Uni Emirat Arab.
Awal mengikuti serangkaian tes, dirinya agak bimbang karena peserta tes saat itu ada sekitar 100 orang dari berbagai penjuru tanah air dan dengan beragam latar pendidikan. Dirinya agak minder karena tidak memiliki gelar pendidikan formal dan hanya mengantongi ijazah penghafal Qur’an. Namun ternyata, kehendak Allah serta nasib baik berpihak pada Asep saat itu.
Ketika Tim Awqaf melakukan tes, semua hafalan yang diambil secara random dapat diselesaikan. Begitupula dengan beberapa pertanyaan tertulis dan pertanyaan lisan seputar aqidah dan akhlak mampu dijawabnya secara tuntas.
Dirinya seolah tak percaya ketika diumumkan lulus dan harus berangkat ke negeri Timur Tengah dengan segala tantangan baru. Saat tiket pesawat dan Visa sudah ditangan, dirinya masih seolah tak percaya. Namun, inilah rahasia Allah.
Saat tiba di Abu Dhabi pada Agustus 2017, Ustaz Asep harus mengikuti karantina dan training selama satu bulan di Masjid King Faisal hingga ada seorang Imam dari Masjid Rahmania menjemputnya untuk bertugas sebagai asisten beliau selama beberapa saat. Inilah awal pengalaman kerja untuk menjadi Imam di negeri petro dollar tersebut.
Saat Masjid Al Akhyar baru dibuka pada Ramadhan 2018, Ustad Asep ditugaskan menjadi Imam masjid tersebut hingga saat ini. Di masjid ini, beliau bertugas bersama seorang rekan lainnya yang berasal dari Maroko yang juga menjadi imam masjid secara bergantian. Tugas beliau adalah memimpin sholat dan juga menjadi muadzin. Selain Imam, masjid ini juga memiliki dua orang marbot yang tugasnya membantu pekerjaan imam.
Sebagai informasi, untuk adzan di Uni Emirat Arab pada umumnya dilakukan secara integral dan terpusat di Masjid Utama, sedangkan masjid lainnya tinggal me-relay saja. Namun ada beberapa Masjid yang diistimewakan melakukan adzan sendiri seperti di Masjid Al Akhyar.
Masjid Al Akhyar memiliki kapasitas 10.000 jamaah dengan kapasitas parkir mobil 200 unit terletak di basement. Masjid ini terletak di tengah pusat Kota Sharjah Uni Emirat Arab. Sebagai pusat kota bisnis, Sharjah merupakan salah satu kota yang cukup padat dan sibuk di Timur Tengah.
Pada masa normal, jumlah jamaah masjid ini sekitar 150 – 400 orang setiap sholat fardhu. Namun pada saat taraweh lebih padat lagi. Namun sejak ditetapkannya lockdown di beberapa kota di Emirat, masjid ini hanya boleh dikunjungi oleh Imam dan Marbot saja.
Pada tahun 2020, Ustaz Asep mendapat momongan.
Sebelumnya, beliau telah menikah dengan sang istri melalui proses pejodohan. Saat menikah, beliau pulang kampung ke Lebak dan meminang gadis Pandeglang.
Ustaz Asep memberikan informasi kalau pendapatan pokok sebagai Imam Masjid di Emirat sekitar 16-17 juta rupiah sebulan, namun bisa lebih tinggi sampai 20 jutaan jika menjadi pengajar sekolah tahfidz yang ada di Masjid.
Segala kebutuhan sehari-hari, mulai dari tempat tinggal, asuransi kesehatan hingga cuti tahunan sebanyak 30 hari menjadi hak yang diberikan oleh Pemerintah UAE kepada para Imam Masjid, termasuk yang dari Indonesia.
Lebih menggiurkan lagi adalah family status yang disandang, yaitu para Imam Masjid diperbolehkan membawa keluarga (anak dan isteri) untuk tinggal di Emirat dengan fasilitas apartemen dengan fasilitas lengkap. Asep mendapat satu apartemen dengan 2 kamar tidur, ruang tengah plus dapur dengan 3 kamar mandi.
Lokasi apartemen yang ia tingali hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid. Setiap sholat lima waktu, ia harus selalu berada di masjid sekitar sepuluh menit sebelum dan sesudah waktu sholat.
Memimpin jamaah sholat adalah sebuah kepercayaan dan tanggung jawab yang harus ditunaikan dihadapan manusia dan Allah
Asep tidak perlu memikirkan pendidikan anaknya kelak, karena Pemerintah UAE memberikan jaminan pendidikan gratis hingga kuliah. Begitu terharunya Ustad Ustad Asep teringat saat menceritakan bagaimana beliau ingin kuliah namun tidak memiliki biaya.
Pesan Ustad Asep bagi para pemuda, belajarlah secara sungguh-sungguh dan raihlah mimpi, walau kadang mimpi kita tak seindah kenyataan, namun percaya bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu.
Source: dari berbagai sumber

0 Comments

Iklan Bawah Artikel